A blasphemy. Digital playground where one can satisfy its demise. Disguised by what to be called as angel of death. Welcoming something.

Andai satu jiwa yang terkekang ini temukan damai dibalik kelamnya detak jantung yang berdengung, bak seekor lebah dalam toples kacang.

Hening.

Rotten within.

What is a happiness ? when you can’t smile between the cries, when you always cry even when its sunny morning outside.

Biarkan sang waktu tertawa, dalam gelaknya.

Just let them be.

And the song of adjacent lies, will echoes through the heavens.

Dan aku, takkan melupakan. Semua yang indah, yang telah engkau berikan. Mengenangmu, adalah hal terindah yang bisa kunikmati saat ini.

Calm, and lethargic.

What a coincidence.

Hanya beberapa detik sebelum semua berakhir. Dalam lelap dan mimpi.

I was thinking about her, about me, about us.. and it was only just a dream.

Here we go again, I kinda want to be more than friends.

Lets play pretend. But I’m afraid I won’t get out alive.

Sangat mengganggu. Sangat menyesakkan. Apa mau dikata ketika merubah dari dalam keluar. Hingga ke partikel terkecil dari tampilan luar pun ikut berubah. Kerut dan denyut. Berdentum dentum dengan irama tergelak lepas.

One thing to another, but what is coincidence means ? are there really coincidences ? No. There are no such things. All is well planned. By Those beyond us. And again, just dream of the freedom itself won’t take you anywhere.

Tidak sejengkal pun merasakan emosi. Tidak setitikpun tersungging kerut. Polos. Mati. Mari mulai menari. Ketidak tahuan akan kehidupan membuat kita merindukan kematian lebih dari apapun. Dan ke-sok tahu-an akan kehidupan membuat kita lupa akan kematian. Ironis dan menyenangkan. Pemahaman tentang kehidupan membuat kita aware akan kematian.

Hmm.. random banget ya ? 😛

 

Advertisements