Dalam diamnya, terlelap tinggalkan isak
dibalik tangis dan rasa sakit
diantara kerinduan dan rasa lelah

Untuk dia yang disana,
tertidurlah dalam damaimu
sisakan rengkuhmu diantara kami yang disini
tersenyumlah
hingga nanti kami tiba disana..

Kemarin pagi, tepatnya hari Kamis, 14 Agustus 2008, setelah adzan subuh, Ibuku menghembuskan nafas terakhirnya. Di kamar rawat inap kandungan RS DR. Sutomo Surabaya.

Sebenernya aku dan keluargaku udah tahu kalo Ibu gak bisa bertahan lama lagi, karena sejak 2 hari yang lalu, Dokter yang memeriksa Ibuku mengatakan bahwa Kanker leher rahim yang dideritanya sudah merambat ke hati dan jantung, yang mengakibatkan perutnya membesar dan mengeras, serta warna kulitnya berubah menjadi kebiruan. Padahal seminggu sebelumnya, Dokter berkata kalo perkembangan pengobatan Kanker Ibuku melalui penyinaran sinar laser sudah cukup baik, dan diperkirakan beberapa kali penyinaran lagi, sisa Kanker tersebut bisa di bersihkan (pembedahan/kemoterapi).

Sebenernya sejak hari Senin, melihat kondisi Ibu yang melemah dan perutnya yang membesar, Bapak udah meminta rujukan rawat inap, tapi tidak diperbolehkan soalnya gag ada rekomendasi dari radiologi, dan dari radiologi minta cek USG dulu, sementara sebelum USG, Ibu sudah pingsan, dan mau gag mau terpaksa balik ke kost lagi karena kondisinya gag memungkinkan (kebetulan mulai hari Senin – 11 Agustus, Ibuku ngekost didepan RS Dr. Sutomo, dengan tujuan biar lebih dekat). Keesokan harinya, kejadian yang sama terulang, Ibuku nggak jadi cek darah dan USG soalnya terlalu lemah.

Hari Rabu pagi, nafas Ibuku tiba2 sesak. Kemudian oleh Bapak, dengan ditemani seorang kerabat, Ibu dipapah menuju Rumah Sakit. Bapak memaksa untuk tetap menunjukan ke pihak Dokter bagaimana kondisi Ibu saat ini, soalnya melihat jawaban dari pihak Rumah Sakit yang secara tidak langsung seakan menganggap Bapak mencoba mencari alasan agar diberikan rujukan rawat inap (secara rawat inap gratis karena Bapak menggunakan Kartu JPS, sementara ngekost di daerah sekitar RS Dokter Sutomo cukup mahal), Bapak mulai hilang kesabaran, disamping tidak tega melihat Ibu yang terus kesakitan.

Begitu Dokter melihat kondisi Ibu, langsung dipasangkan infus dan pernafasan bantuan dengan tabung Oksigen. Saat itulah Dokter meminta kesiapan pihak keluarga, apapun yang terjadi. Sore harinya, aq dihubungi Bapak untuk segera ke Rumah Sakit bareng adik. Saat itu pikiranku sudah mulai kalut dan perasaanku bener-bener gag enak.

Sesampainya di RS, sudah ada Nenek, kakakq (yang ternyata bolos kerja dan ada disana sejak siang), dan beberapa kerabat dekat (terlihat jelas kalo mereka baru aja nangis). Kondisi Ibu saat itu sudah sangat2 lemah, nafasnya sangat berat dan cepat, tapi pandangannya belum sepenuhnya kosong. Aq berbicara banyak hal, meskipun dia cuman bisa mengangguk dan menggeleng. Somehow I know, Her time is almost over. Pukul 8 malam, keadaannya membaik, kemudian dia tertidur lelap.

Sekitar pukul 10, aq dan adik diminta pulang oleh Bapak (secara adik harus sekolah esok harinya dan dirumah gag ada yang nemenin tidur dan kakakq juga ada kepentingan). Aq sempat berpamitan dan mencium keningnya, memeluknya beberapa saat sebelum kemudian pulang, saat itu rasanya berat sekali. Sampai rumah aq baru bisa tertidur sekitar tengah malam, tapi kemudian terbangun lagi jam 2. Perasaanku bener2 gag enak, akhirnya aq ambil Wudlu trus sholat, saat itu aq cuman minta yang terbaik, buat keluarga, trus terpenting buat Ibuku. Abis sholat, aq tertidur lagi dikursi.

Terbangun oleh Hepo yang teriak2 sekitar jam 5 kurang. Sambil terisak, Bapak ngasih kabar kalo Ibu sudah nggak ada. Saat itu aq bener2 kosong, beberapa detik kemudian, spontan aq nangis, adikku terbangun dan seakan tahu apa yang terjadi, dia ikut nangis, sementara kakakq ngasih kabar ke tetangga sambil mencoba menyiapkan apa aja buat nunggu kedatangan jenazah.

Jah, tiba2 jadi kosong gini, … may be I’ll continue this later …

Advertisements