Pagi ini ada sebuah kejadian unik. Cerita berawal dari sebuah rumah mungil, di sebuah gang kecil yang selalu saia lewati tiap berangkat ato pulang kerumah orang tua saia (secara saia belum bisa beli rumah sendiri). Rumah mungil ini sih sebenernya biasa aja. Rumah dengan arsitektur jawa lama, halaman yang gak seberapa luas. Rumah ini cuma dihuni satu orang, seorang wanita tua yang sudah layak (sangat layak malah) dipanggil nenek. Sering saia wondering kemana keluarganya, tapi, ah sudahlah.

Lho, uniknya mana? 


Tiap kali aq lewat rumah itu, dan kebetulan sang nenek (yg sampe sekarang gak tahu siapa namanya) lagi duduk” didepan rumah, saia selalu tersenyum hormat sambil memandang dia, dan dia selalu menampakkan ekspresi datar dengan tatapan tajam ke arahku, absolutely expressionless. Dan kejadian ini mengalami perulangan tiap kali aq lewat, kek semacem dejavu gitu deh. Pagi ini, entah ada angin apa, for the very first time, she smiled at me ^ ^. Senyum dari wajah keriput nya yg polos. Sebuah senyum yg menampakkan beberapa giginya yg udah hilang termakan usia, sebuah senyum yg seketika bikin aq frozen beberapa detik. Gila! pikirku. Setelah tersadar, aq nyoba menoleh ke berbagai arah, kalau-kalau aq salah sangka, ternyata enggak.

Hmm… gak tahu apa yang terjadi, tapi aq mulai mikir. Pengandaian kalau-kalau semua orang di dunia ini punya kebiasaan saling menyapa dan tersenyum jika berpapasan, wondering what kind of joy would we had. Sebuah kenikmatan yang meskipun cuman bisa bikin tubuh frozen dan hati damai dalam waktu sepersekian detik, tapi worth every smile on the world.

Ironis memang, sepertinya slogan senyum itu indah lebih berlaku dan sering diaplikasikan di iklan-iklan dan promosi-promosi aja, sementara pada prakteknya, senyuman yang tulus itu malah sudah jarang, lebih sering jadi alat untuk persuading, even kiling. What a shame.

Well, tetep aja, senyuman itu mengandung begitu banyak makna, bahkan tangisan sekalipun. Yeah…. I used to smile everytime I wanted to cried out loud and release my pain.

Advertisements