You.. You turn my whole life so blue
Drowning me so deep, I just can’t reach myself again
You.. Successfully tore myheart
Now it’s only pieces
Nothing left but pieces ….
Nothing left but pieces …. of you

“You – Ten 2 Five”

Ah, 4 A.M. in the morning, cold air, as cold as my heart be, … may be, who knows?. Seonggok spidol hitam masih duduk termenung disela daun telinga kananku, sementara beberapa lembar kertas putih kosong menampakkan raut harapnya didepanku, ditemani beberapa lembar lagi yang sudah tergores coretan demi coretan sketsa. Satu botol kosong yang tadinya berisi air mineral itupun masih terdiam, entah dia sedih atau senang karena tetes terakhirnya sudah kurenggut beberapa menit yang lalu. Sementara aku sendiri, masih larut dalam lantunan lagu yang beberapa hari terakhir tak hentinya mengalun perlahan dikepalaku yang penuh dengan teori teori dan teori yang memuakkan. Teori tentang hidup, teori tentang cinta, teori tentang masa depan yang sebenarnya hanyalah wujud lain dari mimpi dan harapan. Mimpi dan harapan yang mungkin akan tetap jadi mimpi dan harapan, karena yang dilakukan hanya bermimpi dan berharap. Nothing more.

Bosan.

Tiga puluh menit berlalu sejak pertama mulai kubuka blog ini dan mulai mengisinya dengan tulisan-tulisan yang tetap tidak jelas. Pointless. Dan botol kosong itu masih tetap terdiam. Owh.. I’m wondering … setelah dia kehilangan seluruh isinya, kira-kira apa yang akan direncanakannya ya? apa dia bakal pergi ke perkumpulan botol kosong di depo sampah ujung jalan dekat pasar tradisional itu? menanti untuk dilelehkan dan didaur ulang bersama teman-teman senasib dengan penuh harap. Harapan untuk mungkin nantinya dijadikan mainan anak-anak, atau dekorasi rumah. Yang tentunya tidak sekedar diisi air mineral yang ketika sudah habis, dia akan ditelantarkan lagi. Dan lalu kembali ke perkumpulan para botol kosong, menanti untuk didaur ulang kembali, dengan harapan yang masih sama. Perulangan reinkarnasi yang melelahkan, mungkin.

Apa kira-kira botol itu punya pemikiran untuk membalas dendam, dengan mengumpulkan teman-temannya dan melakukan blokade saluran-saluran air di sungai-sungai dan selokan-selokan serta gorong-gorong yang fungsinya hampir tak ada lagi, kecuali bahwa gorong-gorong tersebut memiliki nilai sejarahnya sendiri. Ya, salah satu aset lagi yang terabaikan di negara ini. Ah, tapi itu lain cerita beda naskah.

Tapi jika benar para botol tersebut melakukan blokade saluran-saluran air, tak dapat dipungkiri maka dimusim hujan seperti sekarang ini, banjir tak dapat ditolak lagi. Kota ini bisa terendam air dalam waktu yang cukup singkat. Ngeri juga kalau memikirkan semua itu.

Fiuh… I think thats enough with those conspiracy theory of an empty bottle. Tetap saja, botol kosong itu adalah botol kosong yang masih diam membujur dipojok meja. Masih menanti dengan sabar akan nasib apa yang mungkin dia dapatkan. Nasib yang ternyata aku memegang peranan penting atasnya.

Setelah kupertimbangkan, aku meraihnya, membawanya ke dapur, mencucinya hingga bersih. Sepertinya dia senang. Setelah kering, aku mengisinya dengan air mineral lain, langsung dari induk botol yang lebih besar, yang biasa disebut galon air. Setelah penuh, kumasukkan dia ke kulkas.

Yup… sebuah alternatif nasib lain yang bisa kuberikan kepada botol kosong yang selalu menemaniku melakukan corat coret diatas kertas. Samar-samar kulihat botol yang sekarang penuh lagi dengan air mineral itu tersenyum puas, seiring pintu kulkas yang kututup perlahan.

What a pleasure in this damn cold moring. Ew, ndak kerasa dah sejam berlalu. Well, I guess its time to go to sleep then.

Advertisements