Alhamdulillah… nda terasa bulan Ramadhan sudah terlewadkan. Memang saia akui postingan ini super duper sangad telad sekali.. tapi ini adalah a must !!! wajib !!! demi untuk menyempurnakan Puasa saia selama bulan Ramadhan, meskipun kesempurnaan puasa itu sendiri sebenarnya hanya dinilai oleh Dzat Yang Menguasai Alam Semesta, Allah S.W.T….

Ugh, to the point lah…

nFath mengucapkan Minal Aidzien Wal Faidzien, Mohon maaf lahir batin.

Hmh.. kesalahan, merupakan satu dari sekian esensi kehidupan manusia, gak sejumput jiwapun bebas hidup didunia ini tanpa merasakan setitik noda dan kesalahan. Bahkan bisa dibilang manusia itu tiada hari tanpa melakukan kesalahan. Ah, klo bicarain soal kesalahan, keknya gak bakal ada habisnya. Instead of speaking about our faults, why not trying our best to avoid the same mistakes on the future?

Looping kesalahan memang hal yang *aslinya memalukan* dianggep biasa, padahal sebenernya kesalahan merupakan perulangan yang gak perlu, jika dan hanya jika kita bener-bener belajar dari kesalahan kita yang udah lalu, ato yg lebih baik dan lebih sulit lagi, belajar dari kesalahan orang lain.

Dan lagi, selama bulan ramadhan kemaren seharusnya kita (yang menjalankan) *diingatkan* dilatih untuk menghindari dan memahami kesalahan-kesalahan kita, biar ntar begitu lebaran kelar, kita bisa jadi lebih baik. One simple question.. berapa persen dari kita yg bertahan pada jalur “latihan” tersebut dan berapa persen dari kita yg kembali ke “jalan” kehidupan awal sebelum dilatih???

Gak bisa dipungkiri, ironically, lebih banyaknya kita kembali ke kehidupan awal sebelum dilatih, its just ~phew!!~ gone, leaving not even a single trace, and live just goes on the way it used to be. Bahkan beberapa menganggap Ramadhan itu menyusahkan saja, sudah capek-capek melakukan aktivitas, eh masih disuruh laper laperan.

Laper!!!! anjrit, kenapa selalu kata ini yang keluar pertama kali klo denger kata puasa, padahal inti puasa sebenernya khan cukup simple, yet universal, “MENAHAN DIRI, dan BELAJAR MENGALAHKAN DIRI SENDIRI”.

Hmh, tapi biarpun sering diingetin, tetep aja balik ke pribadi masing-masing. Its all about IKHLAS, satu kata penuh makna, senjata paling ampuh buat ngalahin emosi dan egoisme diri. Senjata yang sampai saat ini masih berusaha aq temuin bagian-bagian lengkapnya.

Hmh… to think of all above, ternyata saia ini bener-bener belum bisa dikategorikan dalam “Mereka yang puasanya sukses”, jangankan sukses, mendekati saja kelihatannya kok masih meragukan. Karena menurutku, esensi puasa Ramadhan bukan pada puasanya yg sebulan penuh, ataupun hingar bingar perayaannya dikala usai. Esensinya lebih kepada akan menjadi manusia yang bagaimana kita setelah Ramadhan usai.

Subhanallah…. Astaghfirullah…. semoga Allah menunjukkan jalannya untuk kita semua.

Advertisements